Jumat malam sendirian di kost kotor ini ditemani beberapa lagu di mp3 list, saya mencoba memulai melihat dunia disekitar saya. Sepertinya sudah agak beberapa lama, saya tidak melihat lagi dunia disekitar saya. Kembali lagi berteman dengan red netbuk tercinta(saya menyebutnya harta satu-satunya dikost) mencoba merangkum lagi beberapa elemen hidup saya sendiri.
Yach, sebagai manusia terkadang kita merasa dikecewakan(terkadang?....hmmm mungkin sering juga sih). Sengaja atau tidak terkadang kita melibatkan emosi kita ketika kita tidak siap menghadapi sebuah kekecewaan(mana ada orang siap untuk kecewa?....Adi…kamu bodoh). Kecewa adalah hal yang lumrah ketika kita menggantungkan suatu harap terlalu tinggi tanpa kita sadari kita ini manusia. Terlalu berharap, tapi kita sering lupa kalau ternyata manusia terkadang menjadi lemah hati untuk terjerembab pada sebuah batu sandungan kekecewaan.
Menurut saya pribadi ada dua macam kecewa(hah?....emang ada ya klasifikasinya? ; kecewa hati dan kecewa mulut). Kecewa hati adalah saat kita percaya ataupun berharap tinggi terhadap sesuatu. Terlalu naïf bahwa suatu hal tak akan pernah menyentuh kita. Dan pada akhirnya hal yang sebelumnya kita sangka tak akan menyentuh kita itu menghampiri kemudian menghempaskan kita ke gravitasi bumi yang menyakitkan. Terlalu mengharap tinggi, terlalu sakit juga kenyataannya. Berada pada posisi tinggi akan sangat menyakitkan begitu kita jatuh pada kenyataan. Kecewa hati mungkin berawal dari ke”sombong”an diri kita yang merasa jauh lebih baik dari yang lain. Bisa juga ketika kita terlalu percaya pada sebuah kondisi ataupun terhadap seseorang yang tidak mungki bisa (setidaknya dlm pikiran kita)mengecewakan. Terlalu naïf berpikir bahwa ada laut yang tenang selamanya, justru disaat yang sama kita menunggu datangnnya badai. Menjadi kecewa adalah disaat kita jatuh dalam badai itu.
So, apa itu kecewa mulut? Kecewa mulut menurut opini saya adalah saat dimana kita terkejut tentang hal2 diluar kehidupan kita. Kecewa seperti ini hanya berlangsung sesaat, karena kecewa ini sebenarnya bukan bagian dari hidup kita sendiri. Kecewa ini hanya sebatas ucapan dan tak lebih. Semudah membalikan telapak tangan pula kita melupakannya.
Menjadi kecewa dan terjatuh memang sangat manusiawi. Entah kecewa terhadap kondisi, diri sendiri, orang-orang terdekat, atau bahkan masa depan yg belum tentu terjadi. Mempunyai rasa kecewa dalam hati seperti memelihara kedengkian dalam hati kita, lalu bagaimana kita harus menyikapinya?
Yach, tidak adil sepertinya bagi saya sendiri untuk menggurui tentang menyikapi kekecewaan. Bagi saya pribadi. Kecewa berarti sesuatu berjalan diluar dari apa yang kita mau. Jikalau sesuatu berjalan diluar kemauan kita, kekecewaan itu datang di hati kita. Menghitung banyaknya berkat yang kita terima setiap harinya mungkin bisa meredakan rasa kecewa yang kita hadapi. Rasa kecewa tak lebih dari sikap patah arang kita. Well, menjadi lebih baik jika mensyukuri setipa berkat yang kita terima daripada berkutat terus dalam rasa kecewa…………..GBU all