Di tengah suasana rumah kost yang sepi, kembali saya teringat kehidupan masa kuliah saya. Well, masa itu memang terasa menyenangkan lengkap dengan semua konflik pertemanannya(heeeeh,,,kayaknya masih berlangsung mpe sekarang deh)
Masa kuliah waktu itu memang diwarnai dengan berbagai idelisme yang terasa sangat mewarnai pertemanan saya dan teman-teman saya. Beberapa teman, aktif dalam menuangkan idealisme kehidupan mereka dalam bersastra. Beberapa teman menjalani kehidupan dalam idealisme tentang hidup yang sempurna yang lengkap dengan segala materinya. Beberapa teman mewarnai kehidupan mereka dengan idealisme tentang kesederhanaan hidup. Beberapa teman menjalani kehidupan mereka dengan idealisme tentang pengetahuan yang harus dicapai.
Lalu dimana kah posisi saya berada? Yach, saya lebih senang menjalani hidup saya dengan cara yang biasa, dan membiarkan teman-teman saya menilai kehidupan mereka sendiri. Terkadang idealisme ini membenturkan kami dalam konflik yang kadang sedikit menjengkelkan. Secara pribadi saya memandang konflik pertemanan ini sebagai sebuah lecutan kehidupan yang harus dilewati. Kalau boleh jujur, konflik-konflik yang terjadi diantara kami sebenarnya adalah egoisme kami bagaimana memandang hidup yang ideal diantara kami. Di lain hal, konflik ini serasa memberi energy untuk semakinmemaksimalkan kondisi kami di zona nyaman masing-masing.
Terkadang sebagai manusia, kita terbebani untuk membuktikan sesuatu dihadapan kolega kita. Terkadang pula obsesi kita untuk mencapai sesuatu membuat kita berpikir egois terhadap sekitar kita. Semakin tinggi target yang ingin kita capai, semakin banyak pula badai yang akan kita hadapi. Yach, melalui semua hal yang kita inginkan, terkadang itu menutup semua nurani kita sendiri. Pertemanan saya membuktikan hal itu. Terkadang saya dan teman-teman saya bersikap egois satu dengan yang lain karena kami tidak mau di hakimi dalam mengambil jalan kami masing-masing. Berawal dari idealism diri yang akhirnya berujung pada ke”egois”an untuk tidak mendengar yang lain.
Tak ada yang sempurna memang, tapi setidaknya kita berusaha unyuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Dari idelaisme pertemanan saya dan ke”egois”an diri saya dan orang-orang yang saya kenal, saya mulai belajar sesuatu. Kita sering berharap lebih terhadap sesuatu, mencemaskan masa depan, merasa tidak aman, dan hal yang lain yang sering menghantui. Tetapi semuanya itu tak akan berarti banyak kalo kita percaya bahwa kita pasti bisa melaluinya. Kecemasan akan hal yang belum tentu kita hadapi hanya akan membebani langkah kita. Oke, menjadi sebuah pilihan pada akhirnya akan di jalur mana kita melalui sebuah tujuan kehidupan kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar