well....sepertinya sudah lama saya tidak update posting di blog ini. yach begitu banyak yang terjadi di kehidupan saya akhir2 ini.
Bercerita untuk saat ini seperti memaksa saya menelan pil pahit tanpa penawar rasa pahit itu sendiri. Sepertinya kehidupan saya yang begitu beruntung runtuh dalam sekejap mata. Yach kehidupan yang beruntung itu.
Ketika saat tulisan ini ditulis saya tengah berjuang memenangkan hati saya sendiri untuk menata lagi satu sisi kehidupan saya yg terkoyak. Oke mari kita tinggalkan sejenak masalah saya itu...nanti ada waktunya saya bercerita. untuk saat ini saya mau bercerita tentang kehidupan saya yang beruntung.
Saya lahir di sebuah keluarga sederhana yang harmonis sebagai putra tunggal keluarga. Wow betapa beruntungnnya saya kata setiap orang yang melihat. Tapi mereka tidak pernah merasakan betapa sepinya hidup saya. Betapa beruntungnnya saya kata orang yg melihat saya bisa dapat apa aj yang saya mau. tapi mereka tak pernah tahu betapa susahnya mama papa saya berhemat hanya untuk sekedar beli susu di masa kecil saya.
Masa kecil saya lewatin dengan prestasi sekolah yang mengagumkan. well setidaknya untuk angak 8 dan 9 lumayan gampang bagi saya. Orang berkata betapa beruntungnya punya otak encer. Tapi mereka tak pernah tau papa saya membangunkan saya jam 4 pagi untuk sekedar belajar. Mereka tak pernah tahu mama bangun jam 3 pagi hanya sekedar buat susu untuk saya. Saya kecil memang begitu lemah. Ketemu dokter sudah sangat sering. Orang bilang betapa beruntungnya saya punya orang tua yang berduit. Tapi mereka tak pernah tahu papa mama hrus berhutang atau menangguhkan kebutuhan lain agar saya bisa secepatnya sembuh. hmmm
Orang bilang masa SMA adalah masa yang indah. Kalo saya ingat masa SMA saya, sedih menyusup dihati saya. Saya seperti menyia-siakan keberuntungan saya. bertindak seenak sendiri tanpa berpikir dua kali. Yang saya dapat hanya masa study yang extend dan luka di lutut yang tidak akan pernah sembuh. Dalam keberuntungan saya di SMA saya seperti melupakan mama papa saya dan lebih memilih unutk hidup dengan cara saya sendiri.
well masa suram itu akhirnya terlewati dan berganti dengan bangku kuliah yang hangat. Betapa beruntungnnya saya punya mama papa yg setiap semester berjuang untuk bayar uang kuliah yg tidak sedikit. Betapa beruntung saya punya mama papa yng tiap awal semester sudah berpikir untuk uang semester yg blm tentu saya tempuh.
Saya hidup hadir di dunia ini karena mama papa. well kita semua punya cerita masing2 tentang orang tua masing2. satu yang saya pelajari...mungkin kita tidak pernah selamanya sependapat dg orang tua kita. tapi coba lihat setiap sisi baiknya. tidak mungkin orang tua kita mendorong kita ke lembah yang kelam.
ucapkan syukur untuk segala kehidupan yang kita punya. berdamailah dengan orang tua jika anda merasa tidak sependapat. kita tidak pernah tau berapa sisa waktu kita bersama mereka.
I Love U Pa-Ma......Thx for everything...GBU my Pa-Ma
Bercerita untuk saat ini seperti memaksa saya menelan pil pahit tanpa penawar rasa pahit itu sendiri. Sepertinya kehidupan saya yang begitu beruntung runtuh dalam sekejap mata. Yach kehidupan yang beruntung itu.
Ketika saat tulisan ini ditulis saya tengah berjuang memenangkan hati saya sendiri untuk menata lagi satu sisi kehidupan saya yg terkoyak. Oke mari kita tinggalkan sejenak masalah saya itu...nanti ada waktunya saya bercerita. untuk saat ini saya mau bercerita tentang kehidupan saya yang beruntung.
Saya lahir di sebuah keluarga sederhana yang harmonis sebagai putra tunggal keluarga. Wow betapa beruntungnnya saya kata setiap orang yang melihat. Tapi mereka tidak pernah merasakan betapa sepinya hidup saya. Betapa beruntungnnya saya kata orang yg melihat saya bisa dapat apa aj yang saya mau. tapi mereka tak pernah tahu betapa susahnya mama papa saya berhemat hanya untuk sekedar beli susu di masa kecil saya.
Masa kecil saya lewatin dengan prestasi sekolah yang mengagumkan. well setidaknya untuk angak 8 dan 9 lumayan gampang bagi saya. Orang berkata betapa beruntungnya punya otak encer. Tapi mereka tak pernah tau papa saya membangunkan saya jam 4 pagi untuk sekedar belajar. Mereka tak pernah tahu mama bangun jam 3 pagi hanya sekedar buat susu untuk saya. Saya kecil memang begitu lemah. Ketemu dokter sudah sangat sering. Orang bilang betapa beruntungnya saya punya orang tua yang berduit. Tapi mereka tak pernah tahu papa mama hrus berhutang atau menangguhkan kebutuhan lain agar saya bisa secepatnya sembuh. hmmm
Orang bilang masa SMA adalah masa yang indah. Kalo saya ingat masa SMA saya, sedih menyusup dihati saya. Saya seperti menyia-siakan keberuntungan saya. bertindak seenak sendiri tanpa berpikir dua kali. Yang saya dapat hanya masa study yang extend dan luka di lutut yang tidak akan pernah sembuh. Dalam keberuntungan saya di SMA saya seperti melupakan mama papa saya dan lebih memilih unutk hidup dengan cara saya sendiri.
well masa suram itu akhirnya terlewati dan berganti dengan bangku kuliah yang hangat. Betapa beruntungnnya saya punya mama papa yg setiap semester berjuang untuk bayar uang kuliah yg tidak sedikit. Betapa beruntung saya punya mama papa yng tiap awal semester sudah berpikir untuk uang semester yg blm tentu saya tempuh.
Saya hidup hadir di dunia ini karena mama papa. well kita semua punya cerita masing2 tentang orang tua masing2. satu yang saya pelajari...mungkin kita tidak pernah selamanya sependapat dg orang tua kita. tapi coba lihat setiap sisi baiknya. tidak mungkin orang tua kita mendorong kita ke lembah yang kelam.
ucapkan syukur untuk segala kehidupan yang kita punya. berdamailah dengan orang tua jika anda merasa tidak sependapat. kita tidak pernah tau berapa sisa waktu kita bersama mereka.
I Love U Pa-Ma......Thx for everything...GBU my Pa-Ma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar